Goede Avond..
Malam ini saya menerima sebuah pesan dari seseorang sudah terbiasa berkomunikasi dengan saya..
dan malam ini juga dia menanyakan sesuatu hal yang membuat saya bingung..
lalu pada "klimaks" saya hanya berkata "Good For You"
karena saya kurang bisa menerima jikalau "pesimis" yang dikedepankan..
entah hanya kebodohanku atau hanya anganku..
tapi harapan, angan-angan, mimpi ku lah yang bisa membantuku sampai sejauh ini..
aku hanya menganggap..
Seorang yang pesimis ialah seseorang yang sudah enggan untuk yakin atau bahkan hanya bermimpi saja..
seorang lain pernah berkata kepadaku..
"elo kalo mau bisa bertahan, lo harus yakinin diri lo sendiri..
klo elo ragu, lo pasti bikin orang jadi ragu..
dan lo itu punya senjata.. tapi klo lo ga yakin, lo ga percaya, lo ga mau berusaha buat apa yang buat lo berhasil,, gw anggap lo ga punya senjata..
it means lo itu udah kalah perang.."
kesimpulannya "gw terima gw kalah karena orang lain lebih hebat dari gw, bukan karena gwnya yang gagal mempersiapkan diri untuk bertahan ataupun berperang"
hahahahaha.. it's really good for you..
Ya Allah, ku mohon berilah hamba-Mu ini berkah (hujan) teramat deras..
amin
Rabu, 04 Mei 2011
: : Thalassemia : :
Penyakit thalassemia memang belum banyak dikenal masyarakat, sebagaimana penyakit diabetes, jantung, atau stroke. Padahal, penyakit ini termasuk kondisi membutuhkan biaya perawatan yang tinggi, selain juga tidak dapat disembuhkan.
Menurut Elva Epriliana, produk spesialis Thalassemia Klinik Prodia, thalassemia merupakan penyakit keturunan di mana terdapat kelainan atau perubahan pada hemoglobin yang menyebabkan sel darah merah mudah rusak. Ini merupakan penyakit genetika yang tidak dapat disembuhkan. Sampai saat ini, pengobatan satu-satunya yang dapat dilakukan adalah lewat transfusi darah.
Berdasarkan derajat kelainannya, thalassemia dibagi menjadi thalassemia mayor dan minor (pembawa sifat). Khusus thalassemia mayor, biasanya pasien memerlukan transfusi darah dan terapi pengobatannya dilakukan sepanjang hidup.
"Ada penderita yang memerlukan transfusi setiap dua bulan sekali atau sebulan sekali, tergantung dari berat ringannya," kata Elva dalam talkshow bertajuk "Satukan Cinta, Kendalikan Thalassemia" di Jakarta, Rabu, (4/5/2011).
Pada thalassemia mayor, tanda dan gejala yang umumnya muncul beberapa bulan setelah lahir di antaranya pucat dan limpa membesar. Selain itu, ada gejala lainnya, seperti perubahan bentuk muka, kulit kehitaman, gangguan pertumbuhan, dan gizi kurang/buruk.
Transfusi berfungsi membantu penderita thalassemia mayor untuk memperbaiki pasokan sel darah merah. Namun, efek transfusi ini juga perlu mendapat perhatian karena penderita dapat terancam akibat kelebihan zat besi yang terbawa pada saat transfusi.
"Kelebihan zat besi menimbulkan bahaya tersendiri bagi tubuh penderita karena dapat terakumulasi dan merusak organ tubuh mereka," ujarnya.
Namun, pasien tidak perlu khawatir. Pasalnya, kelebihan zat besi tersebut dapat diatasi dengan mengonsumsi obat kelasi besi (menetralisasi zat besi dalam tubuh).
Dari segi biaya, pengobatan penyakit ini memang masih tergolong tinggi. Elva mengungkapkan, rata-rata biaya penanganan thalassemia setiap anak di dunia mencapai 30.000 dollar AS per tahun. Sementara di Indonesia biaya pengobatan mencapai Rp 200 juta-Rp 300 juta per tahun setiap anak, dan jumlah ini di luar biaya jika terjadi komplikasi.
Untuk saat ini, kata Elva, masalah pembiayaan berobat untuk pasien tidak mampu dapat sedikit teratasi dengan adanya bantuan pemerintah melalui Jaminan Kesehatan Masyarakat. Pasien miskin penderita thalassemia mayor tetap bisa mendapatkan pengobatan gratis di salah satu rumah sakit pemerintah.
"Thalassemia dapat diminimalkan dengan pemeriksaan skrining yang optimal dan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai penyakit thalassemia dan akibatnya," ujarnya.
Source : kompas.com
Menurut Elva Epriliana, produk spesialis Thalassemia Klinik Prodia, thalassemia merupakan penyakit keturunan di mana terdapat kelainan atau perubahan pada hemoglobin yang menyebabkan sel darah merah mudah rusak. Ini merupakan penyakit genetika yang tidak dapat disembuhkan. Sampai saat ini, pengobatan satu-satunya yang dapat dilakukan adalah lewat transfusi darah.
Berdasarkan derajat kelainannya, thalassemia dibagi menjadi thalassemia mayor dan minor (pembawa sifat). Khusus thalassemia mayor, biasanya pasien memerlukan transfusi darah dan terapi pengobatannya dilakukan sepanjang hidup.
"Ada penderita yang memerlukan transfusi setiap dua bulan sekali atau sebulan sekali, tergantung dari berat ringannya," kata Elva dalam talkshow bertajuk "Satukan Cinta, Kendalikan Thalassemia" di Jakarta, Rabu, (4/5/2011).
Pada thalassemia mayor, tanda dan gejala yang umumnya muncul beberapa bulan setelah lahir di antaranya pucat dan limpa membesar. Selain itu, ada gejala lainnya, seperti perubahan bentuk muka, kulit kehitaman, gangguan pertumbuhan, dan gizi kurang/buruk.
Transfusi berfungsi membantu penderita thalassemia mayor untuk memperbaiki pasokan sel darah merah. Namun, efek transfusi ini juga perlu mendapat perhatian karena penderita dapat terancam akibat kelebihan zat besi yang terbawa pada saat transfusi.
"Kelebihan zat besi menimbulkan bahaya tersendiri bagi tubuh penderita karena dapat terakumulasi dan merusak organ tubuh mereka," ujarnya.
Namun, pasien tidak perlu khawatir. Pasalnya, kelebihan zat besi tersebut dapat diatasi dengan mengonsumsi obat kelasi besi (menetralisasi zat besi dalam tubuh).
Dari segi biaya, pengobatan penyakit ini memang masih tergolong tinggi. Elva mengungkapkan, rata-rata biaya penanganan thalassemia setiap anak di dunia mencapai 30.000 dollar AS per tahun. Sementara di Indonesia biaya pengobatan mencapai Rp 200 juta-Rp 300 juta per tahun setiap anak, dan jumlah ini di luar biaya jika terjadi komplikasi.
Untuk saat ini, kata Elva, masalah pembiayaan berobat untuk pasien tidak mampu dapat sedikit teratasi dengan adanya bantuan pemerintah melalui Jaminan Kesehatan Masyarakat. Pasien miskin penderita thalassemia mayor tetap bisa mendapatkan pengobatan gratis di salah satu rumah sakit pemerintah.
"Thalassemia dapat diminimalkan dengan pemeriksaan skrining yang optimal dan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai penyakit thalassemia dan akibatnya," ujarnya.
Source : kompas.com
Langganan:
Postingan (Atom)